Apakah kamu pernah merasakan rasa sesak? Sesak dan sakit saat melihat dia yang masih mengharap kan nya... Dia yang masih mengharap kan nya. Dia yang tidak melihat aku yang sangat menyayangi nya. Atau mungkin dia memang tidak pernah melihat ku? tak apa aku pahami itu. Karena ini juga salah ku yang mengagumi mu dalam diam.
AKU INGIN MEMILIKIMU ENTAH BAGAIMANA PUN CARANYA!!
Entah mengapa memikirkan mu malah membuat ku sakit, namun tidak memikirkanmu membuat hati ini tersayat hampir bernanah!
Aku ingin menari dengan mu berdua di alam bebas diterangi rembulan dan bintang- bintang selama nya tanpa ada dia yang mengganggu.
Ingat saat pertama kali kita bertemu? pertemuan secara kebetulan dan singkat. Saat itu hujan deras mengguyur kota Tangerang. Aku berteduh di sebuah halte, lalu kau datang dengan motor mu dan ikut berteduh di sebelah ku. Kita terdiam seperti orang bodoh disitu, hanya ada suara hujan.Aku hanya sibuk mendengar derai hujan.Kita masih terdiam, dan masih bertahan untuk tak saling berbicara. Tiba-tiba kau tersenyum pada ku dan membuka pembicaraan. "
"Hai... boleh tau siapa nama mu?" kau bertanya.
Dan aku pun memandang mu sejenak, entah ada perasaan yang merayap,kedalam hati ini dan membuat ku nyaman berada di samping mu.
" Haii.. Nama ku Fika Bella Shaifira" bibir ku kelu dan aku tampak salah tingkah , namun aku mencoba untuk munyungging kan senyum. Itu pertama kali kita saling bicara. Sungguh tragis memang, padahal sebenar nya rumah kita tak begitu jauh.
Kau tersenyum kembali, dan aku menikmati senyum itu. Candra Masega, nama mu terpampang pada bet baju sekolah mu yang tertutup jaket itu. Aku sudah tau nama itu sejak 3 tahun silam, sejak pertama kali aku menjatuh kan hati pada nya.
Diam- diam aku memperhatikan mu, mengagumi ukiran Tuhan yang sangat sempurna itu. Aku sering melihat mu di dekat rumah ku, hanya memandang dari jauh, tidak sedekat ini.Bahagia itu sederhana, saat aku bisa menatap mu dalam jarak yang sedekat ini, walau pun kau tidak tahu. Aku menghayal semakin jauh, menghayal jika kau bisa menjadi milikku.
"Fika, Hujan nya sudah reda." ucap nya tenang.
Aku langsung tersadar dari lamunan ku. "Oh iyaa kalau begitu aku duluan ya"
" Tunggu, lebih baik kita bareng saja, rumah kia kan satu arah"
Aku tidak percaya dia mengjakku, aku masih terdiam dan aku masih membiar kan kata- kata itu melayang di udara
" Fika, ayooo" Aku hanya menurut saat dia langsung menarik ku menuju motor nya, dan memakai kan ku jaket milik nya.
Sebelum dia mengendarai motor nya dia tersenyum kembali. Kau begitu nyata. Aku bisa memeluk mu dari belakang, dengan jarak sedekat ini. Semuanya terjadi begitu cepat, motor mu telah berhenti di depan pintu pagar rumah ku
" Candra, makasih ya. Kamu mau mampir dulu?" tanya ku
" Sama- sama Fika, gak usah Aku mau langsung pulang saja ya. sudah malam"
" Oh yasudah, hati- hati di jalan ya... sampai jumpa lain kali " Aku menjawab nya dengan wajah yang memerah, dan seperti biasa salah tingkah di depan mu. Aku benci harus bersikap seperi itu di depan mu.
Dia memberikan ku satu senyuman lagi sebelum pergi. Dalam hitungan detik, dia dan motor nya pun tak terlihat lagi.
Aku masuk kedalam kamar ku, kejadian barusan masih terekam jelas di otak ku. Membuat aku tersenyum sendiri jika memikir kan nya. Senyuman nya, wajah nya, suara nya, pelukan nya begitu nyata di memory otak ku. Tanpa sadar aku pun tertidur dengan senyum di bibir ku.
Pagi ini semua nya tampak begitu berwarna, aku mempunyai aktifitas baru. ya.. aktifitas yang sangat aku sukai. Mencari cari kamu dalam dunia maya. Menjadi penguntit yang selalu meluangkan waktu ku hanya untuk melihat apa yang kau tulis setiap hari nya. Aku mengetahuim semua tentang mu, sacara diam diam tanpa pernah engkau tahu.
Namun aku tahu, suatu saat nanti pasti aku akan mengalami suatu perasaan yang sakit.
Aku tahu kamu masih menuggu dia untiuk kembali lagi pada mu, tapi apa salah nya kamu mencoba untuk melupakan dia yang telah menyakiti mu. Atau memang aku yang terlalu egois dan jahat yang mencoba misahin kalian? Jadi apa yang harus aku perbuat?
Aku sudah berusaha untuk melupakan mu, bernapas tanpa mu. Pada awal nya semua nya berhasil dan baik baik saja. Tapi di luar dugaan ku, setiap malam kau datang ke pikiran ku. Membuat hati ku seolah- olah pasrah dengan bayang mu yang tertinggal disana. Aku tidak cukup kuat untuk menghancurkan semua kenangan itu. Melupakan mu tak semudah membalik kan telapak tangan.
Kalau memang itu mau mu, aku akan mencoba mengalah demi kebahagiaan mu dan dia.
Kini, sendiri aku dalam kamar diiringi rintik hujan diluar. Lagi- lagi menangis dalam diam...
Pertemuan singkat itu ah...indah sekali, sayang untuk dilupakan....